SELAMAT DATANG DI AGR Today BAGI YANG INGIN POSTING TULISAN HUBUNGI ADMIN WA: 082262416132

Senin, 14 September 2015

“Aspal, Mobil dan Sinyal Handphone Seperti Barang Langka”

JORONG RUMBAI DI SIJUNJUNG
MASIH TERTINGGAL ATAU DITINGGALKAN
Oleh : Alhadi

Jorong Rumbai, terletak di nagari Sisawah Kecamatan Sumpur Kudus Kabupaten Sijunjung, belum semua tersen­tuh oleh manisnya pembangunan. Beragam suka cita terpendam di daerah terisolir di Kabupaten Sijunjung. Bagi warga setempat, aspal, mobil dan sinyal handphone seperti barang langka yang tidak mungkin didapatkan. Akses ke kampung ini hanya jalan tanah, naik turun bukit, keluar masuk hutan. Untuk masuk ke daerah tersebut bisa dari Nagari Padang Laweh, Kecamatan Koto VII. Dengan waktu 4 Jam perja­lanan, berjalan menggunakan motor di tepi aliran Sungai Batang Sumpur untuk tiba di nagari Sisawah kemudian baru sampai di Jorong Rumbai.

Suasana Jorong Rumbai sekitar pukul 11.30 Wib, terasa sangat sepi.  Tidak ada yang berkeliaran di kampung itu. Di bagian utara, sebuah Mushalla tua yang dindingnya terbuat dari kayu, seperti menjadi kekuatan bagi warga untuk bertahan dalam rimba tersebut. Surau Muhtar Syiddin namanya, meski  sudah tua dan dimakan rayap, masyarakat kadang menjadikan tempat ibadah itu untuk bersosialisasi memupuk silaturrahim.

Warga Jorong Rumbai memang masyarakatnya, memiliki kekeluargaan yang baik, sopan santun terhadap tamu dan selalu memiliki muka yang cerah, walaupun jalan tanah yang kini menjadi jalan utama warga Jorong Rumbai, yang dibuka oleh Bupati Sijunjung beberapa tahun lalu, dan sampai sekarang kami belum bisa menikmati seperti apa rasa membawa kendaraan di atas aspal seperti daerah-daerah lain. Harapan besar kepada pemerintah, baik itu Daerah, Provinsi Maupun RI segera perbaiki jalan. Apalagi sekarang mulai masuk musim hujan, medan jalan sulit dilewati akibat lumpur.

Pada umumnya harga barang yang dijual dipasaran sangat mahal sekali dibandingkan harga yang semestinya, itu memang tidak bisa dipungkiri, karena permasalahan jarak tempuh dan waktu yang dihabiskan untuk mengantarkan bahan dan pangan ke daerah ini. Begitu juga halnya dengan Bensin dan Semen untuk bahan Rumah warga sangat mahal bahkan tidak terjangkau juga oleh pembeli, makanya, rumah warga di sini, banyak rumah kayu dan tidak seperti rumah mewah lannya. Semuanya berprofesi sebagai petani, kebun orang lain dan ada juga yang memiliki lahan peladangan, namun jumlahnya tak banyak dan juga tidak luas. Kalau yang punya ladang, hasilnya paling untuk hidup sehar-hari, itupun kalau hasil ladangnya baik.

Kecuali menjadi buruh ladang, untuk mencukupi kehidupan sehari-hari, ada juga penduduk setempat yang menjadi pemikat burung atau penangkap burung ke rimba. Burung hasil tangpakan itu kemudian  dijual kepada orang-orang  yang memeiliki hoby memelihara burung. Kalau siang, kampung ini seperti mati. Semua penghuni pergi bekerja, lokasinya ke dalam rimba dan jauh. Walaupun demikian harapan warga setempat belum putus, masih  memohon perhatian  agar pemerintah membangun jalan menuju Jorong Rumbai. Kalau tidak ada akses jalan, generasi di jorong Rumbai tidak menyentuh pendidikan hingga tamat SMA. Sebab, lokasi Sekolah sangat jauh dari jorong Rumbai.

Seperti kebutuhan jalan, warga jorong Rumbai juga mengahrapkan fasilitas air bersih. Mereka tidak peduli harus dari PDAM ataupun sulingan langsung dari mata air, yang pasti kebutuhan terhadap air bersih menjadi kebutuhan primer. Warga sekitar selama ini hanya  menggantungkan air minum dari  dari satu pincuran air yang aliran sangat kecil.

Dari segi pendidikan kurangnya perhatian peme­rintah setempat, SDM warga Jorong Rumbai hingga kini juga masih terbe­lakang. Anak-anak masih berjalan ka­ki ke sekolah, melewati Bukit dan Pendakian dan itu tidak mesti mereka lakukan. Menangis rasanya ketika mengingat, diwaktu anak-anak ha­rus pergi ke nagari Sisawah untuk mengikuti ujian na­sional dan kegiatan-kegiatan lainnya. Satu hari sebelum acara mereka sudah berangkat. menginap di tempat keluarga masing-masing. Setelah selesai UN dan kegiatan lain, barulah anak-anak kembali dengan berjalan kaki ke Jorong Rumbai tadi, karena mengingat ongkos ojek yang ma­hal. Memang selalu dihadapkan dengan se­jum­lah keterbatasan, namun siswa SD di jorong ini harus bersaing dengan sekolah lain di perkotaan dengan standar ujian nasional yang sama. Setamat SMP, mereka harus berse­kolah ke nagari lain karena belum ada SMA di kampungnya.

Karena sulitnya akses, dan sulitnya kehidupan banyak anak-anak putus sekolah dan kebanyakan pendidikan tertinggi itu SMP. Umumnya teman-teman bantu orang tua ke ladang. Untuk membantu kehidupan keluarganya. Kehidupan penduduk Jorong Rumbai masih jauh dari sejahtera. Mereka meng­gantungkan hidup pada hasil per­tanian. Pertanian mereka hanya cukup untuk menghidupkan makan sehari-hari saja.

Dari segi listrik memang sangat jauh sekali dengan apa yag diharapkan. Indonesia memang sudah 70 tahun merdeka, Jorong Rumbai belum tersentuh listrik. Untuk membuat laporan ke Dinas Pendidikan, para guru harus ke nagari Sisawah untuk memakai komputer dan rumah, anak-anak belajar pada siang hari. Apabila senja datang dan magrib hari mulai gelap, kemudian se­telah Shalat Isya dan mengaji, anak-anak akan tidur, begitulah kehidupan mereka sehari-hari.

Komunikasi dan Teknologi. Sudahlah tak ada listrik, warga Jorong Rumbai tak bisa menikmati handphone untuk sarana komunikasi. Bukan tidak mampu sama sekali untuk memiliki HP, namun sinyal HP yang tidak ada sama sekali. Kalau mene­lepon, harus ke Bukit dulu. HP hanya untuk dengar lagu di rumah dan hanya untuk pengantar tidur.

Akibat dari ketinggalan teknologi dan informasi kebanyakan anak-anak di kampung tidak bisa menikmati perkembangan dunia luar. Masalah jaringan ini penting. Kita butuh orang pusat yang memahami permasalahan di jorong dan sekolah. Padahal, sekolah katanya sudah harus menggunakan sistem online. Namun untuk komunikasi antar kecamatan begitu susah, kecuali harus turun langsung atau pergi ke Bukit dulu. 
Jorong yang ada di pelosok sudah berupaya ingin maju, kenapa dari pihak pemerintah tidak punya keinginan? Memang tidak efisien pada zaman modern ini laporan harus manual atau dalam bentuk fisik. Kalau memang ada kebijakan menggunakan IT, kita yakin proses akan berjalan dengan lancar dan kita tidak akan ketinggalan seperti sebelumnya.

Andaikan bukan sekarang tetapi untuk generasi yang akan datang sangat membutuhkan Ilmu Teknologi Informasi ini, dengan tujuan supaya tampil lebih maju dan lebih bermanfaat bagi warga, terpenting sekali adalah bagaimana pemerintahan nagari,  kecamatan, kabupaten, provinsi, atau tingkat nasional itu bisa mensupport bagi jorong-jorong yang hari ini jelas berhadapan dengan segala kekurangan mereka untuk keluar dari keterbatasan.

Populer

Menjadi Pemimpin Itu MELAYANI bukan untuk mencari Kekuasaan dan Popularitas

Sorang pemimpin yang memiliki misi melayani biasanya memiliki konsep, pemikiran dan solusi untuk memberikan sebuah pelayanan yang profes...