SELAMAT DATANG DI AGR Today BAGI YANG INGIN POSTING TULISAN HUBUNGI ADMIN WA: 082262416132

Kamis, 17 Desember 2015

Jorong Rumbai, Nasib Mu....!!!!


Sijunjung - Jorong Rumbai, terletak di Nagari Sisawah Kecamatan Sumpur Kudus Kabupaten Sijunjung, belum semua tersen­tuh oleh manisnya pembangunan. Beragam suka cita terpendam di daerah terisolir itu.

Bagi warga setempat, aspal, mobil dan sinyal handphone seperti barang langka yang sulit didapatkan. Akses ke kampung ini hanya jalan tanah, naik turun bukit, keluar masuk hutan. Untuk masuk ke daerah tersebut bisa dari Nagari Padang Laweh, Kecamatan Koto VII. Dengan waktu 4 Jam jarak tempuh perja­lanan. Berjalan menggunakan kendaraan roda dua, menyusuri aliran Sungai Batang Sumpur, sehingga bisa tiba di nagari Sisawah kemudian baru sampai di Jorong Rumbai.

Sehari – hari, suasana di Jorong Rumbai pada pukul 11.30 Wib, terasa sangat sepi.  Tidak ada yang berkeliaran di kampung itu. Di bagian utara, sebuah Mushalla tua yang dindingnya terbuat dari kayu, seperti menjadi kekuatan bagi warga untuk bertahan dalam rimba tersebut. Surau Muhtar Syiddin namanya, meski  sudah tua dan dimakan rayap, masyarakat kadang menjadikan tempat ibadah itu untuk bersosialisasi memupuk silaturrahim.

Warga disana memiliki ikatan kekeluargaan yang baik, sopan santun terhadap tamu dengan senyum sapa dan muka yang cerah.

Walaupun jalan tanah yang kini menjadi jalan utama warga Jorong Rumbai, yang dibuka oleh Bupati Sijunjung beberapa tahun lalu, sampai sekarang belum tersentuh oleh proyek pembangunan jalan aspal. Kondisi itu sangat memprihatikan, apalagi dalam kondisi hujan, medan jalan akan sulit dilewati karena berlumpur.

Kesulitan akses jalan, ternyata berdampak pula pada ekonomi, yakni harga barang – barang disana terutama kebutuhan sehari – hari, bahan bakar motor (BBM.red), semen dan lainnya, terbilang cukup mahal, wajar saja jarak tempuhnya yang jahu akan memakan biaya distribusi yang besar pula.

Sehingga untuk rumah saja, karena semen yang mahal sebagai bahan dasarnya, tidak sedikit akhirnya masyarakat hanya mampu membangun rumah kayu dan tidak seperti rumah mewah lainnya, yang ada di muaro sijunjung.

Soal pendapatan, rata – rata masyarakat disana berprofesi sebagai petani, bekerja di kebun orang lain, walaupun ada juga yang memiliki lahan peladangan, namun jumlahnya tak banyak dan juga tidak luas. Kalau yang punya ladang, hasilnya paling tidak hanya cukup untuk hidup sehari-hari, itupun kalau hasil ladangnya baik.

Dengan kondisi mata pencarian seperti itu, untuk mencukupi kehidupan sehari-hari saja rasanya tidak cukup. Maka, ada juga penduduk setempat yang menjadi pemikat burung atau penangkap burung ke rimba. Burung hasil tangkapan itu kemudian  dijual kepada orang-orang yang memiliki hoby memelihara burung.

Kalau kita berjalan ke kampung itu pada siang hari, serasa seperti mati suasana. Semua penghuni pergi bekerja, lokasinya ke dalam rimba dan jauh.

Namun masyarakat Jorong Rumbai belum putus asa dan berharap perhatian serius dari pemerintah. Agar bersedia mengarahkan pembangunan, ke daerah mereka itu. Apalagi, Jika kendala akses jalan ini tidak mendapat solusi, maka tidak sedikit pula generasi disana diprediksi selalu kesulitan untuk mengecap pendidikan hingga tamat SMA saja. Sebab lokasi sekolah, cukup jauh untuk ditempuh.

Akhirnya, karena sulitnya akses, dan sulitnya kehidupan, banyak anak-anak putus sekolah dan kebanyakan pendidikan tertinggi disana hanya SMP. Umumnya anak – anak disana membantu orang tua mereka bekerja ke ladang. Untuk membantu kehidupan keluarganya.

Belum lagi kebutuhan akan air bersih. Barang yang satu itu juga termasuk list kebutuhan yang termasuk langka. Sebab selama ini, masyarakat sebagian besar hanya bergantung dari satu pincuran mata air yang aliran sangat kecil sekali.


Jika dibungkus menjadi satu, selain yang disebutkan tersebut, seperti listrik, jaringan internet dan kebutuhan pendukung lainnya. Disana, di Jorong Rumbai adalah harapan ‘asa’ yang kini masih mengurai rasa hampa. Semoga Pemerintah Kabupaten Sijunjung membaca kondisi ini dan cepat – cepat menyikapinya, sehingga tidak ada lagi Jorong Rumbai yang tidak tersentuh nikmatnya Kemerdekaan Republik Indonesia. (Alhadi).

Populer

Menjadi Pemimpin Itu MELAYANI bukan untuk mencari Kekuasaan dan Popularitas

Sorang pemimpin yang memiliki misi melayani biasanya memiliki konsep, pemikiran dan solusi untuk memberikan sebuah pelayanan yang profes...