JORONG RUMBAI DI SIJUNJUNG
MASIH TERTINGGAL ATAU DITINGGALKAN
Oleh : Alhadi
Jorong
Rumbai, terletak
di nagari Sisawah Kecamatan Sumpur Kudus Kabupaten Sijunjung, belum semua tersentuh
oleh manisnya pembangunan. Beragam suka cita terpendam di daerah terisolir di Kabupaten
Sijunjung. Bagi warga setempat, aspal, mobil dan sinyal handphone seperti barang langka
yang tidak mungkin didapatkan. Akses ke kampung ini hanya jalan tanah, naik
turun bukit, keluar masuk hutan. Untuk masuk ke daerah tersebut bisa dari
Nagari Padang Laweh, Kecamatan Koto VII. Dengan waktu 4 Jam perjalanan, berjalan
menggunakan motor di tepi aliran Sungai Batang Sumpur untuk tiba di nagari Sisawah
kemudian baru sampai di Jorong Rumbai.
Suasana Jorong Rumbai sekitar pukul
11.30 Wib, terasa sangat sepi. Tidak ada yang berkeliaran di kampung itu.
Di bagian utara, sebuah Mushalla tua yang dindingnya terbuat dari kayu, seperti
menjadi kekuatan bagi warga untuk bertahan dalam rimba tersebut. Surau Muhtar
Syiddin namanya, meski sudah tua dan dimakan rayap, masyarakat kadang
menjadikan tempat ibadah itu untuk bersosialisasi memupuk silaturrahim.
Warga
Jorong Rumbai memang masyarakatnya, memiliki kekeluargaan yang baik, sopan
santun terhadap tamu dan selalu memiliki muka yang cerah, walaupun jalan tanah
yang kini menjadi jalan utama warga Jorong Rumbai, yang dibuka oleh Bupati Sijunjung
beberapa tahun lalu, dan sampai sekarang kami belum bisa menikmati seperti apa
rasa membawa kendaraan di atas aspal seperti daerah-daerah lain. Harapan besar kepada
pemerintah, baik itu Daerah, Provinsi Maupun RI segera perbaiki jalan. Apalagi
sekarang mulai masuk musim hujan, medan jalan sulit dilewati akibat lumpur.
Pada
umumnya harga barang yang dijual dipasaran sangat mahal sekali dibandingkan
harga yang semestinya, itu memang tidak bisa dipungkiri, karena permasalahan
jarak tempuh dan waktu yang dihabiskan untuk mengantarkan bahan dan pangan ke
daerah ini. Begitu juga halnya dengan Bensin dan Semen untuk bahan Rumah warga
sangat mahal bahkan tidak terjangkau juga oleh pembeli, makanya, rumah warga di
sini, banyak rumah kayu dan tidak seperti rumah mewah lannya. Semuanya berprofesi sebagai petani, kebun orang
lain dan ada juga yang memiliki lahan peladangan, namun jumlahnya tak banyak
dan juga tidak luas. Kalau yang punya ladang, hasilnya paling untuk hidup
sehar-hari, itupun kalau hasil ladangnya baik.
Kecuali menjadi buruh ladang, untuk mencukupi
kehidupan sehari-hari, ada juga penduduk setempat yang menjadi pemikat burung
atau penangkap burung ke rimba. Burung hasil tangpakan itu kemudian
dijual kepada orang-orang yang memeiliki hoby memelihara burung. Kalau
siang, kampung ini seperti mati. Semua penghuni pergi bekerja, lokasinya ke
dalam rimba dan jauh. Walaupun demikian harapan warga setempat belum
putus, masih memohon perhatian agar pemerintah membangun jalan
menuju Jorong Rumbai. Kalau tidak ada akses jalan, generasi di jorong Rumbai
tidak menyentuh pendidikan hingga tamat SMA. Sebab, lokasi Sekolah sangat jauh
dari jorong Rumbai.
Seperti kebutuhan jalan, warga jorong Rumbai juga
mengahrapkan fasilitas air bersih. Mereka tidak peduli harus dari PDAM ataupun
sulingan langsung dari mata air, yang pasti kebutuhan terhadap air bersih
menjadi kebutuhan primer. Warga sekitar selama ini hanya menggantungkan
air minum dari dari satu pincuran air yang aliran sangat kecil.
Dari segi pendidikan kurangnya perhatian pemerintah
setempat, SDM warga Jorong Rumbai hingga kini juga masih terbelakang.
Anak-anak masih berjalan kaki ke sekolah, melewati Bukit dan Pendakian dan itu
tidak mesti mereka lakukan. Menangis rasanya ketika mengingat,
diwaktu anak-anak harus pergi ke nagari Sisawah untuk mengikuti ujian nasional
dan kegiatan-kegiatan lainnya. Satu hari sebelum acara mereka sudah berangkat.
menginap di tempat keluarga masing-masing. Setelah selesai UN dan kegiatan lain,
barulah anak-anak kembali dengan berjalan kaki ke Jorong Rumbai tadi, karena
mengingat ongkos ojek yang mahal. Memang selalu dihadapkan dengan sejumlah
keterbatasan, namun siswa SD di jorong ini harus bersaing dengan sekolah lain
di perkotaan dengan standar ujian nasional yang sama. Setamat SMP, mereka harus
bersekolah ke nagari lain karena belum ada SMA di kampungnya.
Karena
sulitnya akses, dan sulitnya kehidupan banyak anak-anak putus sekolah dan
kebanyakan pendidikan tertinggi itu SMP. Umumnya teman-teman bantu orang tua ke
ladang. Untuk membantu kehidupan keluarganya. Kehidupan penduduk Jorong Rumbai masih
jauh dari sejahtera. Mereka menggantungkan hidup pada hasil pertanian. Pertanian
mereka hanya cukup untuk menghidupkan makan sehari-hari saja.
Dari segi listrik memang
sangat jauh sekali dengan apa yag diharapkan. Indonesia memang sudah 70 tahun merdeka, Jorong Rumbai belum
tersentuh listrik. Untuk membuat laporan ke Dinas Pendidikan, para guru harus
ke nagari Sisawah untuk memakai komputer dan rumah, anak-anak belajar pada
siang hari. Apabila senja datang dan magrib hari mulai gelap, kemudian setelah
Shalat Isya dan mengaji, anak-anak akan tidur, begitulah kehidupan mereka
sehari-hari.
Komunikasi
dan Teknologi. Sudahlah tak ada
listrik, warga Jorong Rumbai tak bisa menikmati handphone untuk sarana
komunikasi. Bukan tidak mampu sama sekali untuk memiliki HP, namun sinyal HP yang
tidak ada sama sekali. Kalau menelepon, harus ke Bukit dulu. HP hanya
untuk dengar lagu di rumah dan hanya untuk pengantar
tidur.
Akibat
dari ketinggalan teknologi dan informasi kebanyakan anak-anak di kampung tidak bisa
menikmati perkembangan dunia luar. Masalah jaringan ini penting. Kita butuh
orang pusat yang memahami permasalahan di jorong dan sekolah. Padahal, sekolah
katanya sudah harus menggunakan sistem online. Namun untuk komunikasi
antar kecamatan begitu susah, kecuali harus turun langsung atau pergi ke Bukit
dulu.
Jorong yang ada di pelosok sudah
berupaya ingin maju,
kenapa dari pihak pemerintah tidak punya
keinginan? Memang tidak efisien pada zaman modern ini laporan harus manual
atau dalam bentuk fisik. Kalau memang ada kebijakan menggunakan IT, kita yakin
proses akan berjalan dengan lancar dan kita tidak akan ketinggalan seperti
sebelumnya.
