Lompong Sagu adalah juga salah satu makanan khas Minangkabau, yang telah dikenal oleh banyak orang dari zaman dahulu hingga sekarang, namun di Sumatera Barat ini tidak semua orang melestarikan makanan khas tersebut.
Pak Nono misalnya, ia adalah salah seorang pemilik usaha lompong Sagu yang berada di Jalan Ampang Timur, sudah cukup lama menjalankan usaha tersebut. Kepada SKR disampaikannya, tujuan ia untuk melestarikan makanan khas Minang ini, supaya lebih dikenal oleh semua kalangan masyarakat yang ada di Sumatera Barat dan seluruh Indonesia umumnya, sebuah tujuan yang mulia.
“Usaha ini kami jalankan diwaktu jalan raya Ampang ini masih jalan tanah, masih kecil dan belum diaspal seperti ini. Alhamdulillah berkat usaha, sabar dan doa kami bisa bertahan dan melanjutkan makanan khas Minang sampai sekarang ini,” ungkap Nono, lelaki paruh abad itu.
Berkat kesabaran dalam menjalankan usahanya tersebut hingga sekarang, usahanya itu telah banyak dikunjungi oleh pembeli dan juga banyaknya pesanan dalam jumlah yang lumayan. Pembelinya beragam, mulai dari kalangan bawah maupun sampai kekalangan masyarakat atas.
Jika ditelisik sejarah dan perjalanannya, penganan lompong sagu ini telah sampai di beberapa daerah dan kota besar yang ada di Indoneia, malah sampai keluar daerah lainnya, seperti: Batam, Pekanbaru, Bandung, Jakarta dan Malaysia (luar Indonesia).
“Orang-orang berkunjung untuk membeli dari pagi sampai pada malam harinya, apalagi disaat hari libur atau sabtu minggupun berantrian untuk menunggu giliran pesanannya. Karena saking ramainya, saya hati – hati dengan stok bahan, agar tidak kehabisan. Seandainya stok barang ini tidak cukup, maka pelanggan akan kecewa,” ujarnya.
Dari perjalanan usahanya, Nono juga sudah memiliki beberapa cabang usahanya yang tersebar di beberapa daerah di Sumatera Barat. Malah banyak pula bekas dari karyawannya yang telah mandiri atas didikan Nono.
“Di didik sambil bekerja, setelah dirasa paham dan mengerti dengan usaha lompong sagu ini, maka saya-pun menganjurkan mereka untuk buka usaha sendiri. Tujuannya jelas, supaya mereka bisa berkarir dan hidup mandiri untuk membantu keluarga masing-masing,” imbuh Nono, lagi.
“Untuk memiliki usaha ini sebenarnya tidak sulit, bahkan mudah dilaksanakan oleh masyarakat dan tidak mengeluarkan modal begitu banyak dan harga jualpun terjangkau oleh semuga kalangan. Bahan-bahan yang saya siapkan untuk membuat usaha ini cukup sederhana saja, seperti: Alat pembakar Sabuik Karambia, Sagu, Pisang, Karambia Mudo, Gula Aren dan bumbu-bumbu lain yang dirasa perlu, dan tidak lupa untuk pembungkus nya dengan daun pisang,” jelasnya.
Di samping lompong sagu, Nono juga menyediakan makanan lain dan oleh-oleh khas Minang. Seperti; : Palai Balado, Palai Ikan Asin/Pepes, Lapek Sagu Pisang, Rakik Maco, dan Palai Kacang.
Harapannya, “para generasi muda khususnya di Sumatera Barat untuk selalu semangat dan tetap menggali kembali tradisi-tradisi dan makanan khas yang ada di Minangkabau, agar jangan sampai hilang ditelan masa, karena potensi bisnis dari makanan khas ini sangat memiliki peluang besar ke depan,” harap Nono. (Alhadi)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar